Search

Opini

Mimbar PBB, Perdamaian dan Pangan Dunia


calendar--v1 03 Oktober 2025

Mimbar PBB, Perdamaian dan Pangan Dunia

Pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB Ke-80 menjadi suara nurani kemanusiaan yang menggema kembali setelah puluhan tahun.

Saya, sebagai saksi langsung di aula megah itu, merasakan getaran sejarah mirip saat Presiden Sukarno menggemakan Pancasila di forum yang sama. Kali ini, Indonesia kembali berbicara dengan suara lantang tentang perdamaian, keadilan, dan solidaritas kemanusiaan.

Pesan dari Presiden Prabowo sangat jelas, ada keberanian moral yang tersirat ketika ia menegaskan bahwa perdamaian adalah tentang hadirnya martabat dan keadilan bagi semua. Ini adalah penolakan terhadap kemunafikan diplomasi yang selama ini membiarkan konflik berlarut demi kepentingan geopolitik sempit.

Apresiasi dunia terhadap pidato ini tak terbantahkan. Raja Abdullah II dari Jordania, Presiden Lula dari Brasil, hingga Presiden Trump dan Presiden Macron memberikan penghormatan, membuktikan bahwa suara Indonesia didengar dan dihormati.

SEBAGAI SATU KELUARGA

Yang menarik dari pidato ini adalah bagaimana Presiden menautkan perdamaian dengan ketahanan pangan, sebuah visi yang saya pegang teguh sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan.

Indonesia telah mencatat produksi beras tertinggi dalam sejarah, investasi pada pertanian cerdas iklim, dan rantai pasok yang tangguh. Kita tidak hanya swasembada, tetapi juga mengekspor, termasuk menyediakan beras untuk Palestina. Ini adalah diplomasi kemanusiaan yang konkret.

Di tengah kondisi ini, komitmen Indonesia untuk menjadi lumbung pangan dunia adalah bagian integral dari kontribusi kita terhadap perdamaian global. Inilah yang dimaksud Presiden Prabowo ketika ia mengatakan bahwa perdamaian harus dibangun atas dasar keadilan ekonomi, bukan sekadar gencatan senjata sementara.

Yang paling menyentuh adalah penegasan Presiden Prabowo soal solusi dua negara. Dua keturunan Nabi Ibrahim harus hidup dalam rekonsiliasi, damai, dan harmoni. Arab, Yahudi, Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, semua agama. Kita harus hidup sebagai satu keluarga manusia.

Palestina harus merdeka, berdampingan dengan Israel yang aman, tanpa kebencian yang diwariskan dari generasi ke generasi. Indonesia siap mengerahkan 20.000 pasukan penjaga perdamaian ke Gaza atau wilayah konflik lain, seperti Ukraina dan Sudan, sebagai komitmen pada multilateralisme dan hukum internasional.

Dukungan ini selaras dengan sejarah kita, dari Konferensi Asia-Afrika 1955 yang melahirkan Gerakan Non-Blok, hingga kontribusi konsisten Indonesia dalam misi perdamaian PBB. Indonesia saat ini berada di ambang kemakmuran bersama, kesetaraan, dan martabat yang lebih besar.

Ada keberanian intelektual ketika Presiden mengutip dan menyatakan PBB hadir untuk menolak doktrin Thucydides, bahwa ”yang kuat melakukan apa yang mereka bisa, dan yang lemah menderita apa yang harus mereka tanggung”.

Indonesia tahu betul apa artinya menjadi ”yang lemah”. Selama berabad-abad, bangsa Indonesia hidup di bawah dominasi kolonial, penindasan, dan perbudakan. Namun, solidaritas internasional melalui PBB membantu kita bangkit. Kini, giliran kita membantu yang lain melalui rasa empati yang lahir dari pengalaman kolektif.

MIMPI YANG HARUS DIWUJUDKAN

Pidato presiden merupakan artikulasi visi Indonesia tentang tatanan dunia yang lebih adil. Lebih dalam lagi, Indonesia hadir sebagai subyek yang aktif membentuk masa depan. Ada optimisme yang tidak naif di sini, optimisme yang didasarkan pada tindakan dan pelaksanaan.

Dari podium PBB, Indonesia telah berbicara dengan otoritas moral yang lahir dari pengalaman sejarah dan komitmen pada kemanusiaan. Inilah diplomasi yang membumi, yang menghubungkan cita-cita luhur dengan tindakan konkret.

Dunia mendengar. Dunia menghormati. Ini adalah mimpi yang bisa diwujudkan jika kita bekerja keras dengan strategi yang tepat dan akuntabilitas yang tinggi. Jika Indonesia benar-benar menjadi jembatan perdamaian sekaligus lumbung pangan dunia, kita tidak hanya mengubah posisi geopolitik Indonesia, tetapi juga menawarkan model baru kepemimpinan global: leadership through service, kekuatan melalui pelayanan.

Inilah saatnya Indonesia membuktikan bahwa kita adalah arsitek dalam konstelasi global, yang ikut merancang masa depan. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat kata-kata kita di podium PBB, tetapi jejak nyata yang kita tinggalkan di tanah yang kita pijak, baik di Tanah Air maupun di belahan dunia yang membutuhkan solidaritas kita.

Dibuat oleh: Dr (H.C.). H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M., Menteri Koordinator Bidang Pangan