Search
22 Oktober 2025
Zulhas Targetkan Indonesia Punya 30 Insinerator Sampah di 2027MENTERI Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menargetkan Indonesia memiliki minimal 30 insinerator atau alat pembakar sampah pada akhir 2027.
“Insya Allah sudah punya 30 minimal itu waste to energy incinerator, sampah kita olah jadi listrik,” kata Zulkifli saat memberikan kata sambutan peringatan satu tahun Kementerian Koordinator Pangan, di Graha Mandiri, Selasa, 21 Oktober 2025.
Zulhas—begitu ia disapa—mengatakan kebutuhan akan insinerator merupakan bagian dari proyek waste to energy. Program yang dikelola Danantara itu bertujuan mengolah seribu ton sampah per hari menjadi listrik untuk 20 ribu rumah tangga.
Ia bercerita, negara lain telah menggunakan insinerator sejak 20 tahun lalu. Menurut dia, butuh waktu selama 11 tahun untuk mengantongi izin menggunakan alat tersebut di Indonesia.
Politikus Partai Amanat Nasional itu menjelaskan hingga saat ini pemerintah telah mendirikan 14 pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di 10 kota. Ia memperkirakan dalam satu bulan, Indonesia bakal memiliki total 34 insinerator. “Jadi tiga bulan perizinan selesai,” tutur dia.
Program waste to energy bakal diluncurkan pada November 2025 sedangkan proses tender dimulai pada akhir Oktober 2025.
Mengutip siaran pers Danantara, setiap fasilitas pengolahan sampah itu berkapasitas seribu ton per hari dan mampu menghasilkan 15 megawatt listrik, daya tersebut cukup untuk memasok 20 ribu rumah tangga.
Pembangkit listrik tenaga sampah ini sejalan dengan program energi baru terbarukan yang tengah digalakkan pemerintah. Chief Executive Officer Danantara Indonesia Rosan Roeslani menekankan langkah ini sejalan dengan makin masifnya pemanfaatan sumber energi baru terbarukan.
Menurut dia, proyek waste to energy ini bakal membawa kabar baik bagi pemerintah daerah karena tidak ada lagi kewajiban tipping fee untuk pengelolaan sampah. “Karena mekanisme ini sepenuhnya ditanggung oleh Perusahaan Listrik Negara dengan subsidi dari pemerintah pusat. Ini meringankan anggaran daerah sekaligus memperkuat keberlanjutan proyek,” kata Rosan.
Sepuluh wilayah yang menjadi lokasi pengembangan proyek waste to energy adalah Tangerang, Bekasi, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Bali, dan Makassar.
Pendanaan proyek tersebut berasal dari penjualan surat utang atau obligasi Patriot Bonds yang dibeli para konglomerat dengan senilai Rp 50 triliun. Namun Rosan tidak merincikan perusahaan apa saja yang terlibat dalam proyek ini.
“Bisa saya bilang yang besar-besar sih pada ikut semua ya. Baik dari Jepang, Cina, Belanda, Jerman, Singapura. Rata-rata mereka pemain besar. Kita terbuka saja untuk prosesnya. Target memang kita sampaikan dalam waktu dua tahun pembangunan harus selesai,” kata Rosan.
Sumber berita: Tempo.co
Sumber foot: Humas Kemenko Pangan