Search
24 Juli 2025
Zulhas Siapkan Panel Surya 1,5 Hektare Per Desa Lewat KopdesRM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengajak anak-anak muda Indonesia untuk mengambil peran dalam membangun ketahanan pangan dan energi nasional. Lewat program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes), pemerintah menyiapkan skema baru yang menjadikan desa sebagai pusat produksi pangan dan energi terbarukan berbasis solar panel.
“Masa depan Indonesia ada di tangan kalian. Dunia pangan dan pertanian bukan lagi milik orang tua. Saatnya anak muda turun ke sawah, ke kebun, dan ke laboratorium,” tegas Zulhas dalam sambutannya di acara Green Impact Festival di Djakarta Theater, Jakarta, Kamis (24/7/2025).
Zulhas menyoroti pentingnya modernisasi pertanian dan efisiensi produksi. Ia membandingkan produktivitas pertanian dan peternakan Indonesia yang tertinggal jauh dari negara lain seperti China, Brazil, dan Belanda, karena tidak memanfaatkan teknologi dengan optimal.
“China panen padi bisa 10 ton per hektare, kita baru 5 ton. Mereka panen lengkuas 15 ton, kita cuma 1 ton. Kuncinya di teknologi dan riset. Teknologi bukan beban, tapi investasi,” tegasnya.
Menurut Zulhas, peran koperasi akan direvolusi melalui Kopdes Merah Putih. Tak hanya sebagai tempat simpan pinjam, koperasi akan menjadi motor penggerak ekonomi desa. Pemerintah membentuk satgas pembinaan selama tiga tahun untuk membangun ekosistem Kopdes yang mampu menyuplai sembako, gas melon, bahkan layanan keuangan seperti brilink.
“Kita siapkan 80 ribu titik brilink di Kopdes. Ini konkret. Kita ingin memangkas rantai pasok pangan dari delapan lapis jadi dua saja. Tengkulak dan rentenir kita hapus,” katanya.
Yang menarik, Kopdes juga disiapkan menjadi pusat energi baru terbarukan (EBT). Pemerintah menargetkan pembangunan panel surya seluas 1 hingga 1,5 hektare di setiap desa, kecamatan, dan kabupaten. Sistem ini akan menciptakan kemandirian energi tanpa ketergantungan pada transmisi panjang.
“Subsidi listrik kita sekarang 25 miliar dolar AS per tahun. Kalau kita bangun sistem solar panel ini dengan dana 100 miliar, empat tahun impas. Tahun kelima dan keenam tak perlu subsidi lagi. Kita bisa hemat,” jelas Zulhas.
Zulhas menegaskan, kementeriannya terbuka untuk kolaborasi dengan anak-anak muda. Ia mendorong para digital native untuk terjun ke bidang urban farming, agritech, hingga riset pangan alternatif. “Petani bisa kaya. Pemilik kebun kopi, sawit, coklat, itu langgeng. Dunia butuh itu,” pungkasnya.
Sumber berita dan foto: rm.id